Pages

15 December 2010

obrolan ringan GSG ( GEDUNG SERBA Guna atau...….)

Ya, akhir-akhir ini isu yang tengah merebak di kalangan mahasiswa dan semakin hot saja adalah tentang Gedung GSG. Gedung ini berada di kampus STTT.

Apa sih yang salah dengan gedung ini???

Seharusnya gedung ini menjadi kebanggaan bagi mahasisawa STTT karena merupakan gedung terbaik (red : paling bagus) diantara gedung-gedung lain yang terlihat jadul.

Tapi entah kenapa menjadi area yang sensitive untuk dibicarakan di kalangan mahasiswa STTT. Kenapa ya?? Oke, kita kroscek dan mencari info di sana.

GSG sendiri meruapakan akronim dari gedung serba guna, fungsionalitas utamanya ya serba guna. Biasa dipakai untuk kegiatan mahasiswa, perguruan tinggi, seminar, tempat ujian, kuliah umum, pertemuan, dan masih banyak lagi. Namanya juga gedung serba guna.

Tapi ketika bertanya-tanya kepada mahasiswa di sana banyak yang bercanda dan berkelakar ketika ditanya apa kepanjangan dari GSG. Mereka menjawab GEDUNG SERBA GAWINAN. Alias gedung serba untuk pernikahan. Wah ?? ko bisa ?

Ternyata ini jawabannya. Meskipun bercanda tetapi ini bukan tanpa alasan. Hal ini terjadi karena di gedung ini setiap akhir pekan (sabtu atau minggu atau juga sabtu dan minggu) dipakai oleh kedua mempelai untuk pesta kawinan. Hihihihi. Mau bukti ? nih ada poto-potonya.

Tidak ada salahnya memang gedung ini dipakai sebagai tempat pesta pernikahan, lha orang namanya aja gedung serba guna. Namun ketika melihat kegiatan ini setiap minggu ada membuat para mahasiswa menjadi risih. “ini kampus atau tempat nikahan?”, cetus seorang mahasiswa. Dan ketika mahasiswa hendak menggunakan gedung ini maka tidak akan bisa karena mau dipakai kawinan. Hahaha. Area kampus yang seharusnya dipakai untuk sarana penunjang mahasiswa tidak bisa dipakai karena alasan gedung dipakai kawinan dan sudah dipesan. Ya beginilah kondisinya, jadi bingung ni gedung milik siapa ya. apa cuma kebetulan saja berdiri di area kampus atau apa atua apa yang lain.

GSG (gedung serba GAWINAN) versi obrolan santai anak-anak.

Bersambung ke part 2. ^_^








nih mobil kawinannya, keren kan. hihihi. saya juga pengen punya. amin

11 December 2010

Inovasi TEKSTIL

Di Negara berkembang seperti Indonesia dunia pertekstilannya masih bersifat konvensional. Dalam artian pemanfaatannya masih terbatas dengan pembuatan sandang. Padahal seperti kita ketahui industry tekstil di sini berjumlah sangat besar karena industry ini mampu menghasilkan devisa yang sangat besar bagi Negara. Dan sebagian besar industry tekstil di Indonesia adalah pengolahan serat kapas,hampir 75%. Dan sisanyatetap terkonsentrasi pada pembuatan serat, kain, dan industry garmen.

Terbatasnya peralatan dan pengembangan ini mengakibatkan kurangnya inovasi yang dilakukan pada industry tekstil. Padahal di luar negeri sana industry tekstil berkembang dengan pesatnya sehingga tekstil bukan haya melulu berbicara pada sandang semata. Kita akan sedikit mengulas beberapa perbedaan kecil tentang penelitian orang Indonesia yang berkuliah di universitas luar negeri yang notabene negaranya lebih maju dibandingkan dengan Indonesia.


Hendra, S.ST., M.Tech (INDIA)

Penelitian yang dilakukan adalah dengan mengekplorasi serat rami agar serat ini mempunyai fungsionalitasya sebatas kain. Serat rami ini telah dimodifikasisedemikian rupa sehingga mampu menggantikan kayu lapis yang selama ini kita gunakan. Jadi di masa depan, ketika manusia hendak membangun rumah, lantai kayu, body kendaraan, dan alat lainnya. Manusia tidak harus menggunakan kayu lapis, melainkan cukup digantikan oleh serat rami yang telah dimodifikasi. Selain manfaat biayanya lebih murah dan banyaknya bahan baku, tapi juga bisa melakukan penyelamatan bumi ini dar ancaman global worming. Dengan berkurangnya penggunaan kayu lapis yang tergantikan oleh rami ini maka hutan kita tidak banyak ditebang dan kelestarian lingkungan tetap terjaga.

Gunawan, S.ST, M.Sc (jerman)

Beliau melakukan penelitian terhadap sifat kain yang disebut drapability.

Hasil penelitian yang beliau lakukan adalah hasil seratnya digunakan untuk komponen-komponen pesawat terbang,

perahu, jembatan, mobil, dan bahkan untuk rancangan tembok bangunan. Sangat canggih dan sangat luas sekali definisi tekstil di Negara ini sehingga istilah tekstil tidak hanya sekedar baju.

Itu hanya sebagian kecil orang-orang Indonesia yang melakukan penelitiannya untuk mendapatkan gelar master di universitas luar negeri. Kita bisa melihat perbedaan definisi tekstil di Negara Indonesia

dibandingkan dengan Negara-negara yang lebih maju. Inovasi yang dilakukan sangatlah pesat sehingga implementasiaanya sangat luas.

Bisa dibayangkan jika riset-riset itu dilakukan oleh Indonesia dan dikembangkan di egara kita. Betapa hebatnya jika Indonesia mampu mengembangkannya. Dari segi manusianya sudah mampu, namun dari segi fasilitas yang mungkin perlu ditingkatkan. Perlu modernisasi peraltan pertekstilan kita dan pengembangan laboratorium. Jika kedua aspek ini sudah terpenuhi maka hanya tinggal menunggu waktu untuk melihat kemajuan industry tekstil kita. Buka mindset baru dan marilah berinovasi.

Semangat Generasi Muda !!!

05 December 2010

kisah ayatullah khomeini

Pada akhir tahun 70-an dunia diguncangkan oleh sebuah revolusi yang digerakkan oleh seorang ulama. Republik Iran yang begitu kuat di bawah kepemimpinan Syah akhirnya harus tumbang melalui perjuangan panjang ulama tersebut. Ulama itu, tak lain adalah Imam Khomeini, seorang sufi, teolog, fakih, filosof dan sekaligus politikus. Seorang pribadi besar, yang kokoh dalam pendirian dan keteguhan perjuangan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar tanpa mengenal putus asa.

Ayatullah Khomeini lahir di Khomein pada 24 oktober 1902. Khomein, merupakan dusun yang berada di Iran tengah. Keluarga Khomeini adalah keluarga Sayyid Musawi, keturunan Nabi melalui jalur Imam ketujuh Syi’ah, Imam Musa Al-Kazhim. Mereka berasal dari Neysyabur, Iran timur laut. Pada awal abad kedelapan belas, keluarga ini bermigrasi ke India, dan mukim di kota kecil Kintur di dekat Lucknow di kerajaan Qudh, yang penguasanya adalah pengikut Syi’ah Dua Belas Imam. Kakek Sayed Ruhullah Khomeini yang bernama Sayyid Ahmad Musawi Hindi, lahir di Kintur . Keluarga kakeknya adalah keluarga ulama terkemuka, Mir Hamed Husein Hindi Neysyaburi, yang karyanya, Abaqat Al-Anwar, jadi kebanggan Syi’ah India.

Sayyid Ahmad ini meninggalkan India pada sekitar tahun 1830 untuk pergi ziarah ke kota suci Najaf. Di Najaf dia bertemu seorang saudagar terkemuka Khomein. Menerima undangan sang saudagar, Sayyid Ahmad lalu pergi ke Khomein untuk jadi pembimbing spritual dusun itu. Di Khomein Sayyid Ahmad menikah dengan Sakinah, putri tuan rumahnya. Pasangan ini dikaruniai empat anak, antara lain Sayyid Mustafa, yang lahir pada 1856. Sayyid Mustafa belajar di Najaf, di bawah bimbingan Mirza Hasan Syirazi, kemudian pada 1894 kembali ke Khomein. Di sana dia menjadi ulama dan dikaruniai enam anak. Sayyid Ruhullah adalah yang bungsu dan satu-satunya yang panggilannya adalah Khomeini.

Semasa kecil, Sayyid Khomeini mulai belajar bahasa Arab, syair Persia dan kaligrafi di sekolah negeri dan di ‘maktab’. Menjelang dewasa, Sayyid Ruhullah mulai belajar agama dengan lebih serius. Ketika berusia lima belas tahun, dia mulai belajar tatabahasa Arab kepada saudaranya, Murtaza, yang belajar bahasa Arab dan teologi di Isfahan. Pada usia tujuh belas tahun Ruhullah pergi ke Arak, kota dekat Isfahan untuk belajar dari Syaikh ‘Abdul Karim Ha’eri Yazdi, seorang ulama yang terkemuka yang meninggalkan Karbala untuk menghindari pergolakan politik. Sikap ini kemudian mendorong kebanyakan ulama terkemuka untuk menyatakan penentangannya kepada pemerintahan Inggeris.

Setelah runtuhnya imperium ‘Utsmaniah, Syaikh Ha’eri enggan tinggal di kota-kota yang ada di bawah mandat Inggeris. Ia kemudian pindah ke Qum. Sayyid Ruhullah Khomeini lima bulan kemudian mengikuti jejak Syaikh Ha’eri pindah ke Qum. Di tempat yang baru ini Sayyid Ruhullah Khomeini belajar retorika syair dan tata bahasa dari gurunya yang bernama Syaikh Muhammad Reza Masjed Syahi.

Selama belajar di Qum, Sayyid Ruhullah Khomeini menyelesaikan studi fiqh dan ushul dengan seorang guru dari Kasyan, yang sebelas tahun lebih tua darinya, yaitu Ayatullah ‘Alio Yasrebi.

Pada awal tahun 1930-an, dia menjadi mujtahid dan menerima ijazah untuk menyampaikan hadis dari empat guru terkemuka. Yang pertama dari keempat guru itu adalah Syaikh Muhsin Amin ‘Ameli, seorang ulama terkemuka dari Lebanon, dimana Imam Musa Shadr di kemudian hari menggantikan kedudukan Amin sebagai pemimpin Syi’ah Lebanon.

Yang kedua adalah Syaikh ‘Abbas Qumi, ahli hadis terkemuka dan sejarawan Syi’ah. Qumi adalah penulis prolifik yang tulisannya sangat digemari di Iran modern, terutama bukunya yang berjudul Mafatih Al-Jinan (Kunci Surga).

Guru ketiganya adalah Abul Qasim Dehkordi Isfahani –seorang mullah terkemuka di Isfahan.

Guru keempatnya adalah Muhammad Reza Masjed Syahi, yang datang ke Qum pada 1925 karena protes menetang kebijakan anti Islam Reza Syah.

Pada usia dua puluh tujuh tahun, Sayyid Ruhullah menikah dengan Syarifah Batul, putri dari seorang ayatullah yang bermukim di Teheran. Mereka dikarunia lima orang anak, dua putra dan tiga putri.

Imam Khomeini wafat pada tanggal 3 Juni 1989 dengan memberikan sesuatu keyakinan kepada kaum Muslimin diseluruh dunia bahwa ajaran Islam merupakan ajaran yang mampu menuntun manusia pada kebenaran. Memang peranan dan kharismanya dalam Islam modern dan sejarah Iran tak dapat disangkal. Semoga harapan dan cita-citanya dapat menjadi kenyataan dalam sejarah umat Islam di dunia.
Ayatullah Ruhullah Khomeini

sumber : http://my.opera.com/ayatullah%20khomeini/blog/kisah-ayat

15 June 2010

Pesimisme Tekstil

Pada awal tahun 2010 ini Indonesia memasuki era baru dalam dunia perdagangan regional dengan mulai berlakunya ACFTA. Yaitu sebuah perjajnjian perdagangan antara Negara-negara asia tenggara ditambah lagi dengan china. Afta (asean, china free trade area) ini ditandangani oleh perwakilan republic Indonesia. ACFTA sendiri memuat butir-butir perjanjian tentang bidang ekonomi perdagangan. Yaitu menurunkan cost ekspor dan impor antara Negara-negara asean dan china hingga mencapai 0% pada pos-pos tertentu. Tentu saja dengan diberlakukannya acfta ini pesaingan akan semakin ketat dibidang perdagangan. Produk-produk dari luar negeri akan bebasa masuk wilayah Indonesia dan ini merupakan dua sisi mata pisau. Karena dapat kita artikan dengan masuknya prosuk-prodk tersebut akan membuat para produsen dalam negeri meningkatkan kompetisi dan kualitas produk yang dihasilkan tetapi di sisi lain ini akan menjadi boomerang untuk perekonomian indonsia jika saja para pelaku pruduksi lokal ini tidak mampu bersaing dengan barang-barang luar negeri.

Nah dari uraian di atas kita memandang dari pos tekstilnya dan celakanya sebagian besar pelaku usaha kita khususnya dari UKM (usaha kecil menengah) malah cenderung bersikap pesimisme. Bukan tanpa alas an mengapa mereka takut akan berlakunya acfta tersebut karena jikak kita telaah lebih dalam lagi, kita bias mengambil contoh dari sekitar kita yaitu di pasar baju dan tekstil. Meskipun perjanjian acfta ini baru berlaku awal tahun ini tapi kenyataannya banyak beredar produk-prooduk dari china. Entah itu lewat jalur resmi atau lewat selundupan. Nah dengan jumlah yang tidak terlalu banyakpun produk china bias menggoyahkan industry tekstil nasional karena dengan barang yang murah dan lebih variatif bentuknya masayarakat kita cenderung lebih memilih produk china tersebut. Income local kita menjadi turun dan tidak sedikit pula yang mengalami kebangkrutan. Contoh di era millennium yaitu runtuhnya TEXMACO. Yang saya tahu texmaco itu adalah sebuah perusahaan tekstil raksasa di ASIA TENGGARA. Diluar konteks masalah korupsi dan nepotisme di dalamnya ini menimbulkan suatu keresahan yang luar biasa bagi pelaku industry dalam negeri. Logikannya perusahaan yang mempunyai modal luar biasa besar saja bias bangkrut, apalagi yang memiliki modal lebih terbatas. Para pelaku usaha menjerit kepada pemerintah yang berkuasa agar acfta ini diundur tiga tahun lagi agar kita bisa mempersiapkan diri. Namun jeritan mereka diibaratkan seperti “anjing mengonggong kafilah berlalu”. Pemerintah di bidang perindustrian bergeming dan semuanya sudah terlambat kita tinggal menghadapinya saja. Dan siapa yang tahu akan nasib pertekstilan Indonesia ke depan.

Dari pesimisme di atas ternyata tidak hanya dirasakan oleh kalangan pengusaha saja karena ternyata Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat saat ini agung laksonopun mengalami kegundahan serupa. Beliau menyampaikan pendapat pada suatu acara yang intinya ikut hawatir terhadap dunia pertekstilan nasional. Hmm… karena pesimisme ini sudah menjalar ke pelaku usaha dan menteri kita, bahkan para pelajar yang berhubungan langsung dengan industry tekstil ini yaitu mahasiswa STTTekstil juga mengalami kegundahan serupa. Saya mengambil sampel dari salah satu mahasiswa dan melakukan wawancara terhadapnya. Inilah isinya :

Saya : ”sebagai mahasiswa tekstil, pendapat kamu tentang ACFTA bagaimana?”

Mahasiswa : “sebenarnaya saya sedikit takut terhadap acfta ini, kemungkinan terburuknya kan industry tekstil kita merosot dan diperkirakan banyak yang hancur, lalu kalau industrinya pada hancur saya mau kerja dimana?”


Itu adalah salah satu petikan wawancara saya dengan mahasiswa.
Fenomena ini tidak mengada-ada karena memanag inilah fakta yang terjadi. Pemerintah selaku pengusa kebijakan hendaknya menjadi motor penggerak agar rakyatnya bisa lebih optimis lagi dan mampu menjadikan Indonesia sebagai pemain utama industry tekstil dunia. Sejah ini pemerintah sudah melakukan upaya peninjauan kembali tarif 0% pada beberapa pos diantaranya pos pertekstilan nasional agar ditunda dalam mengikuti acfta. Ini merupakan kabar gembira bagi kita semua karena dengan ini ternyata pemerintah masih mau mendengar aspirasi rakyatnya. Dan kabarnya juga pemerintah akan akan merestrukturisasi alat-alat pertekstilan, menyuplai energy listrik, dan penurunan biaya pelabuhan agar ekspor meningkat.

Semoga ini menjadi awal yang baik bagi industry tekstil Indonesia.